Pengetahuan-Saya

Banyak perempuan jahat di luar sana

Kalimat itu keluar dari rasa marah dan kecewa mendalam. Suami yang dinikahinya selama 26 tahun selingkuh dengan perempuan lain. Bukan perempuan muda di usia 20 tahunan tapi hanya lebih muda 3-4 tahun dari dia. Perempuan lain ini mantan pacar suaminya ketika sekolah di kampung.

Rupanya perselingkuhan itu sudah diketahuinya lama, 6 tahun yang lalu. Selama dua tahun terakhir, suaminya tidak pernah lagi kembali ke rumah. Selama dua tahun itu dia hanya curhat ke keluarganya sendiri. Dia tidak mencari bantuan konselor. Dia juga tidak berusaha bercerai. Pertama, dia masih berharap suaminya insaf dan kembali padanya. Kedua, dia tidak bekerja sehingga pendapatan keluarga, termasuk kuliah kedua anaknya, sangat bergantung pada suami. Kalau suami ketahuan selingkuh dan dipecat dari pekerjaan, ada kemungkinan pensiunan akan hilang. Ada itung-itungan ekonominya.

Meskipun sudah mengetahui 6 tahun tentang perselingkuhan suaminya, perempuan ini masih bertahan dalam perkawinan dengan berbagai alasan. Dia memiliki sikap hampir sama dengan ibuku yaitu menolak bercerai dengan berbagai alasan juga. Aku punya sikap yang berbeda tentang perkawinan. Bagiku gagal dalam suatu perkawinan sama seperti gagal dalam suatu hubungan dan itu bukan sesuatu yang memalukan. Buatku perkawinan bukan satu institusi yang harus dipertahankan mati-matian. Aku paham bahwa kedua perempuan yang aku kenal ini bertahan dalam perkawinan karena mereka memiliki nilai dan perhitungan ekonomi yang berbeda denganku.

Perempuan yang terluka ini bercerita bahwa dia siap menerima suaminya kembali jika suaminya meninggalkan perempuan kedua dan berjanji tidak berselingkuh lagi. Sejauh yang aku tahu, hal itu belum terjadi dan entah berapa lama dia akan menunggu dan berharap. Perempuan terluka ini curiga bahwa suaminya kena “guna-guna” yang menurutku upaya bawah sadarnya untuk lebih menyalahkan perempuan lain daripada suaminya. Bagiku, alasan suami “diguna-guna” merupakan cara perempuan untuk menenangkan dirinya sendiri bahwa perselingkuhan suaminya bukan salahnya dan melepaskan dari tanggung jawab suami (laki-laki). Sepertinya lebih nyaman untuk menyalahkan perempuan lain atau dukun yang tidak dikenal rupanya.

Aku merasa perempuan ini masih marah pada suami dan pasangan selingkuh yang dinikahi di bawah tangan. Aku sempat ceritakan bahwa situasiku dengan suami sedang renggang. Aku juga berencana untuk pindah di Malang di awal tahun depan ketika rumah selesai dikontrakkan. Suami kemungkinan besar tetap tinggal di Bogor. Dia keberatan dengan rencanaku karena dari pengalamannya pisah tempat tinggal dan bertemu 2 minggu sekali, rumah tangganya “berantakan”. Baginya, hubungan jarak jauh akan membuka banyak kesempatan untuk berselingkuh. Bagiku, hubungan jarak jauh dapat memantapkan diri jika suatu hubungan layak untuk dipertahankan atau tidak.

Perempuan terluka ini minta agar aku tidak menceritakan kisahnya ke keluargaku. Kemungkinan karena dia tidak ingin suaminya dipecat dari pekerjaan. Masalahnya dia juga bercerita bahwa beberapa teman kerja suami sudah mengetahui kasus ini. Menurutku kisah yang dialaminya bukan hal baru. Aku menuliskannya di sini karena aku merasa tidak nyaman cara dia memaksakan sikapnya kepadaku.

Leave a Reply

Your email address will not be published.