Pengalaman-Saya

Merawat orang sakit

Dua minggu yang lalu aku merawat bapakku yang dirawat di rumah sakit di Pandaan, Jawa Timur. Aku masih bersyukur dia bisa mendapat kamar kelas satu jadi satu kamar diisi dua orang. Bagian tengah bisa digunakan untuk penunggu istirahat. Awalnya informasi dari ibu adalah keluhan lemah jantung sehingga bapak harus memakai oksigen. Kemudian ada benjolan berisi air di kaki kiri bapak dan ketika pecah, kulit seperti melepuh.

Aku dan pasanganku, bersama ibu, bergantian merawat bapak. Selama 4 hari aku menginap di RS bersama pasangan. Pada dua malam pertama, sangat melelahkan karena bapak sulit tidur, sering terbangun dan minta dipapah untuk ke kamar mandi atau dibantu duduk. Seluruh badannya terasa sakit. Ternyata gula darah bapak tinggi dan berbagai upaya, termasuk menyuntik insulin, dilakukan. Selama 5 hari aku bekerja dari RS, alhamdulilah masih bisa bekerja dan aku punya tim yang handal.

Masalah terbesar bukan bekerja dari RS tapi lelah psikis dan fisik karena kurang tidur dan bapakku tipe pasien yang egois. Ada beberapa obat yang tidak diminum dan menuntut dilayani terus. Walaupun ada aku dan pasanganku, dia masih ingin dilayani ibu. Aku tetap minta ibu istirahat dan tidur di rumah. Ibuku sendiri saraf kakinya kejepit sehingga jalannya pincang.

Aku minta temanku yang tinggal di Pandaan untuk menjengukku. Sebagai penunggu, aku merasa perlu dukungan psikis. Temanku datang dengan membawa cilok yang besar-besar. Mantap. Kami ngobrol sekitar 1 jam dan aku sangat terhibur. Aku bersyukur karena hari Jumat, terakhir aku di Pandaan, bapak sudah bisa pulang dan rawat jalan. Gula darah bapak turun walaupun belum normal. Aku sudah memutuskan untuk tidak ikut kegiatan di Bali. Aku serahkan ke teman-teman.

Aku pulang hari Sabtu, meninggalkan pasanganku. Dia bersikeras aku merawat bapak selama di rumah karena ibu kurang sehat. Aku sendiri beralasan bahwa adik akan berada di Pandaan pada hari Minggu. Selain itu, ibu juga sudah mencari orang untuk membantu di rumah tapi khawatir PRT tidak cocok dengan bapak. Jadi sampai aku menulis cerita ini pun, ibu belum menyewa orang dan mengatasi seluruh pekerjaan rumah tangga sendiri. Aku dan adikku bersedia membayar PRT tapi ibu punya banyak pertimbangan.

Aku punya beberapa alasan kenapa 5 hari sudah cukup bagiku untuk merawat bapak. Aku perlu menjaga jarak lagi dengannya dan cukup berhubungan melalui telepon. It’s my decision to take care of myself. I love my mother, I respect her decision to stay with my father. But I can’t make the same decision as hers for her sake.

Leave a Reply

Your email address will not be published.