Pengalaman-Saya

Love myself

Aku sayang aku. Aku peduli dengan diriku.

Kalimat di atas pasti terdengar egois dan mementingkan diri sendiri. Seringkali terdengar sepele dan tidak jarang diremehkan secara tersirat atau tersurat oleh orang lain. Termasuk orang yang terdekat seperti keluarga atau teman. Aku juga pernah mengalami situasi bingung dengan konsep self-care atau love myself. Lalu aku refleksikan ke diriku sendiri dan perlahan memahaminya.

Aku dulu berpikir bahwa love myself atau mencintai diri sendiri adalah tugas individu atau tanggung jawab individu. Jadi misalnya aku merasa tidak percaya diri karena tubuhku, nilaiku, dan lain-lain ya aku menyalahkan diriku sendiri. Kalau aku merasa tidak berharga karena aku mengecewakan orang tua, aku akan menyalahkan diri sendiri juga. Aku tidak mempertanyakan, kenapa sih “harga” seorang anak perempuan ditentukan seperti itu? Bisa tidak aku mengubah pandangan itu?

Aku melalui proses sekitar 12 tahun untuk bisa mencintai diriku sendiri. Aku sadar sekali pentingnya mencintai diri sendiri karena selama sekitar 12 tahun itu aku terlalu fokus pada kelemahan, kecemasan, ketidaknyamanan yang aku rasakan. Aku menjadi sosok yang tertutup dan murung. Aku mengurung diri dan meratapi diri. Aku tidak berpikir untuk menolong orang lain, bergabung di gerakan mahasiswa, atau apalah. Aku belum sampai ke sana. Aku masih bertanya, “Apa yang salah denganku?”. Aku takut bergabung dengan ikatan mahasiswa atau semacamnya. Aku penuh dengan rasa takut dan tidak aman.

Ketika aku mulai belajar tentang relasi gender dan dengan tekun mengurai pengalaman masa kecil, aku belajar menjawab pertanyaan dan kegelisahanku. Aku belajar mengubah pertanyaanku. Aku belajar untuk terbuka dan berbagi. Aku belajar mendengar dan berempati. Aku belajar untuk peduli dan membangun relasi.

Ketika aku dapat mencintai diri sendiri, aku tidak lagi “panik” dengan penderitaanku, dengan pengalaman buruk, atau trauma lain. Aku lebih mampu “menata” hati atau merawat diri. Aku bisa melihat pengalaman diriku pada diri orang lain dan merasa terhubung sehingga aku tidak merasa sendiri atau harus menyelesaikan semuanya sendiri. Dari situ, aku memahami pentingnya menerima dan mencintai diri sendiri.

Aku juga belajar tentang self-care. Aku ingat sekali pada saat konsolidasi FAMM pertama di Desember 2012, seorang teman menyampaikan tentang self-care dan aku bingung. Kemudian konsep self-care itu juga mendapat pertanyaan kritis dari seorang aktivis perempuan senior. Aku pernah mendengar konsep ini tahun 2008 tapi mengabaikannya. Kemudian tahun 2014 pada saat kegiatan di Bangkok dengan JASS-SEA, aku mengikuti panel bertema self-care. Dan di kegiatan yang sama juga aku mengalami burn-out, menangis sesengukan di depan peserta panel. Aku sendiri kaget aku bisa tiba-tiba menangis, di depan forum lagi ketika aku sedang presentasi.

Aku baru bisa melakukan self-care ketika aku menerima dan mencintai diriku. Kalau aku tidak mencintai diri sendiri, aku tidak peduli dengan kesehatan mentalku dan orang lain. Upaya untuk mencintai diri sendiri seharusnya bukan kerja individu tapi kerja kolektif yang terorganisir.

Leave a Reply

Your email address will not be published.