Pengalaman-Saya

Burnout kecil

Terakhir aku cukup sehat secara mental adalah akhir Mei. Waktu itu aku masih meluangkan waktu untuk merawat diri seminggu sekali atau bahkan dua hari sekali dengan cara refleksi. Begitu masuk Juni sampai Juli, perawatan diri terlewatkan. Akhir Juni aku merasa kalau perawatan diri ditunda terus atau tidak tidak aku lakukan, aku akan burnout lagi. Pertengahan Juli aku sudah merasa emosiku tidak karuan. Selain karena pekerjaan, aku dan pasangan hampir tidak pernah berkomunikasi. Orang tuaku pun tahu kalau aku dan pasangan sedang ada masalah.

Aku ingin memberikan waktu ke pasanganku. Mungkin dia juga sedang burnout dan perlu waktu sunyi seperti yang aku lakukan di bulan April lalu. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa ke aku. Dia secara rutin dan sabar merawat bapakku dan menemani ibu. Jadi ada banyak pekerjaan, masalah dengan pasangan, dan tentu pemberlakuan PPKM Darurat membuat aku menjadi lelah secara psikis.

Di akhir Juli, aku merasa burnout kecil yang mengganggu. Aku lupa jadwal kegiatan tertentu, kegiatan bertumpuk, merasa malas melakukan apapun termasuk refleksi, merasa tidak peduli atau cuek dengan sesuatu yang biasanya aku anggap penting, berusaha menjaga jarak dengan orang tua, dan ritme tidur terganggu.

Aku tidak ingin merasa positif. Aku ingin menjauh dari pekerjaan. Teman-teman di sekitarku sakit, ada yang keluarganya meninggal. Mendapat kabar ada adik dan kakak kelas di UI meninggal. Meskipun aku tidak kenal mereka secara pribadi, aku merasa sedih dan takut. Tidak ada yang berusaha menghibur karena semua orang mengalami hal yang sama. Semangat semakin surut.

Hari ini aku menulis lagi dan berusaha merawat diri. Semoga belum terlambat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.