Pengetahuan-Saya

Istirahat

Kebanyakan orang ingin istirahat tapi tidak tahu bagaimana caranya. Ketika tahu cara istirahat, belum tentu dapat mempraktikannya.

Tiba-tiba ada yang mengganggu. Aku sering mendengar bahwa setiap orang memerlukan waktu untuk memulihkan diri. Proses pemulihan diri kadang berupa mengisi kembali energi, semangat, dan merasa hadir (present in the moment). Dalam proses pemulihan diri yang aku lakukan selama April dengan bantuan konselor, aku belajar bahwa pemulihan diri tidak perlu menunggu sampai ada suatu kejadian yang traumatis atau ketika merasa depresi.

Proses pemulihan diri sebaiknya dilakukan setiap hari, tidak perlu dirapel di hari Sabtu atau Minggu. Bisa dilakukan di awal atau di akhir hari.

Aku pernah mendengar ada seseorang yang mengatakan untuk tidak membawa pekerjaan ketika pulang ke rumah. Hampir serupa, ada juga yang mengatakan untuk membedakan waktu bekerja dengan waktu istirahat. Setelah belajar tentang pemulihan diri dari praktik kemarin, aku merasa pendapat ini berlaku tidak saja bagi orang yang bekerja di bidang yang tidak disukai atau merasa terpaksa bekerja di bidang yang bukan passion-nya. Bagi teman yang bekerja di bidang yang disukai pun, perlu memberi perhatian pada waktu istirahat. Pendapat ini juga tidak hanya pada pekerjaan yang bergaji, tetapi juga pada relawan yang bekerja dengan bayaran minim atau bekerja magang.

Ada kalanya menjadi relawan merupakan bagian dari pemulihan diri. Makanya aku sempat ingin menjadi relawan pada saat pemulihan diri. Tapi aku mundur karena merasa tidak cocok dengan pengelola program dan rasanya proses pemulihan diriku tidak akan berjalan optimal jika aku tetap “bekerja”, baik itu dibayar atau tidak.

Pemulihan diriku dimulai dengan mengenali dan mengatasi “rasa bersalah” karena mengambil cuti untuk memulihkan diri. Mengambil cuti panjang untuk memulihkan diri bukan perkara mudah, apalagi kalau diri terbiasa beraktivitas sebagai bagian dari aktualisasi diri dan membantu orang lain. Ketika mengambil cuti panjang, seperti berhenti untuk berbuat baik pada orang lain, berhenti mengorganisir, berhenti bergerak, berhenti berkembang. Perasaan itu tidak menyenangkan dan seringkali ada rasa kehilangan. Perasaan itu juga yang sepertinya membuat aku sulit memulihkan diri meskipun aku istirahat dari pekerjaan di waktu malam. Karena pada waktu burnout, aku sulit tidur, sulit istirahat. Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri dan memberi tahu tubuhku untuk beristirahat. Dari situ aku paham bahwa jika dibiarkan, situasi bisa semakin gawat. Pada saat burnout kemarin aku merasa mudah tersinggung, sulit konsentrasi, berat badan mudah naik, emosi kacau.

Mengistirahatkan diri bukan hal yang mudah karena masih ada anggapan bahwa cuti itu menyenangkan. Memang menyenangkan kalau dengan cuti kita bisa beristirahat, ketika mengambil cuti tidak merasa bersalah, tidak berada dalam kondisi emosional, dan dikelilingi orang yang tercinta. Dalam proses cuti kemarin, aku merasa perlu mengambil jarak dari suami, orang tua, dan mertua. Pasti jadi pertanyaan orang tua, apalagi mereka tidak begitu paham tentang apa yang aku alami.

Pemulihan diri sama seperti menjaga kesehatan fisik. Tahap paling penting adalah menjaga kesehatan agar terhindar dari penyakit supaya tidak sakit dan tidak perlu berobat. Kalau sudah merasa ada gejala akan sakit atau sistem imun menurun, langsung diterapi dengan vitamin.

Kondisi bekerja dari rumah menurutku menyulitkan proses istirahat atau memisahkan waktu kerja dengan waktu istirahat. Paling tidak dengan pemulihan diri kemarin, aku semakin peka untuk mengenali kondisi emosiku dan berusaha mengatasinya sebelum bertumpuk dan menjadi lebih sulit diurai. Aku perlu memberi dan menjadi ruang aman bagi diriku sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published.