Pengalaman-Saya

Childfree

Di media sosial sedang ramai dibicarakan tentang childfree sebagai tanggapan dari pernyataan dua orang tokoh perempuan dan satu laki-laki yang populer di sosmed. Mereka dan pasangan masing-masing memutuskan untuk childfree. Banyak orang yang tidak ada hubungan dan urusan dengan mereka merasa berkepentingan untuk membahas tentang bahaya narasi childfree bagi keluarga muslim.

Keramaian seperti itu yang sering mengganggu dan menjadi salah satu alasan aku tidak terbuka bahwa aku dan pasangan juga memutuskan tidak ingin punya anak. Istilah yang populer sekarang childfree. Seingatku, sejak SMP aku tidak tertarik untuk punya anak. Ketika aku berusia akhir 20-an dan beberapa teman meragukan keinginanku untuk childfree, aku diam saja. Mereka berpikir bahwa keinginanku itu muncul karena aku belum menikah. Pendapat mereka bukan urusanku.

Selama 11 tahun perkawinan, aku sering ditanya oleh orang tua, teman, sahabat, kerabat tentang pilihan kontrasepsi, rencana punya anak, program khusus untuk punya anak, dan sejenisnya. Pada setahun pertama perkawinan aku menggunakan kontrasepsi kondon dan alami. Setelah itu, aku tidak pernah menggunakan kontrasepsi dan aku tidak pernah mengalami kehamilan. Buatku itu anugerah yang luar biasa.

Tanggapan terhadap narasi childfree menunjukkan karakter masyarakat yang patriarkal dengan menyudutkan perempuan. Ketika tokoh laki-laki menyampaikan bahwa keputusan punya anak diserahkan kepada istrinya, masih ada sebagian publik memujinya. Selain karena dia laki-laki, dia juga non-muslim. Ketika dua perempuan muslim bicara di ruang publik tentang keputusan mereka dan pasangan untuk childfree, banyak pihak yang mengkritik dan membahas keputusan mereka dengan interpretasi agama Islam yang bias gender.

Narasi childfree bisa digunakan untuk membicarakan masalah yang lebih besar yaitu pemahaman tentang hak kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR). Pengetahuan tentang HKSR sering diabaikan dengan berbagai alasan: pornografi, haram, tidak sesuai dengan sunnah Rasul, tidak sesuai dengan budaya, dan sebagainya. Perempuan punya hak untuk mengakses informasi yang benar secara ilmiah tentang kesehatan seksual dan reproduksinya karena perempuan sendiri yang akan memutuskan apa yang akan dilakukan terkait tubuhnya. Childfree juga bisa pintu masuk membicarakan tentang consent atau persetujuan dalam sebuah hubungan.

Sayangnya perdebatan dan kegaduhan publik tentang childfree belum banyak membahas tentang HKSR. Diskusinya menjadi sangat terbatas dan dibatasi di wilayah interpretasi agama tentang kewajiban bereproduksi bagi perempuan muslim. Lebih gawat lagi kalau sampai memberi stigma pada perempuan yang memilih untuk childfree dan mengungkapkannya di ruang publik.

Perempuan punya alasan untuk memutuskan childfree, termasuk ketika alasannya sederhana karena dia tidak ingin punya anak. Dari berbagai alasan, ada alasan yang perempuan mungkin tidak merasa nyaman untuk menyampaikannya di ruang publik. Be respectful, that’s all.

Leave a Reply

Your email address will not be published.