Pengalaman-Saya

Sakit kepala

Seperti kawan-kawanku yang lain, agenda pekerjaan semakin padat ketika memasuki bulan Agustus. Alhamdulilah positivity rate Covid-19 di Jakarta dan Indonesia semakin turun mendekati 5%. Jakarta malah sudah di bawah 5% jadi dalam waktu dekat sekolah tatap muka akan dilakukan. Salah satu sebabnya karena lebih dari sebulan diberlakukan PPKM darurat. Vaksin juga semakin gencar dan dibuat lebih mudah. Alhamdulilah pertengahan Agustus kemarin aku sudah vaksin kedua.

Awal September ini jadwal semakin padat. Akibatnya aku kurang punya waktu untuk menjaga kesehatan mental. Mulailah burnout kecil terasa. Gejala sama dengan sebelumnya. Diawali dengan sulit tidur atau tidur tidak nyenyak. Karena tidur kurang dari 7-8 jam dan aku duduk dalam waktu lama, biasanya juga kurang minum, tekanan darahku turun. Biasanya tekanan darahku memang tidak mencapai 100, tapi mendekati 100. Kamis-Sabtu kemarin tekanan darahku di bawah 90. Kepalaku sakit, cenut-cenut, kadang di sebelah kanan, kadang di kiri. Minum flutamol tidak memberi hasil jangka panjang, hanya mengurangi nyeri kepala 2-3 jam. Setelah efek obat hilang, sakit lagi.

Pagi menjelang siang kemarin, aku membeli sate kambing. Biasanya ini obat yang manjur. Beberapa jam setelah makan sate kambing, efek belum terasa. Setelah itu lumayan. Jumat-Minggu aku tetap olahraga jalan kaki. Aku paksakan agar aku tetap bergerak. Masalah utama menurutku di kuantitas dan kualitas jam tidur. Kalau itu tidak diperbaiki, sakit kepala ini akan bertahan.

Hari ini, Minggu, sakit kepala menghilang. Setelah jalan kaki pagi tadi, aku istirahat sebentar, lalu mengukur tekanan darah. 102/65. Yes! No wonder. Hari Sabtu aku lumayan bisa tidur.

Masalahnya, besok masuk hari Senin. Aku cek di kalendar ada 4 jadwal rapat daring besok. Aku agak terbantu untuk relaxing karena besok ada jadwal perawatan IPL di Oriskin. Tapi aku melakukannya di waktu istirahat. Apakah itu artinya aku tidak bisa beristirahat?

Besok akan diakhiri dengan wawancara dengan dua orang senior di almamaterku. Aku ditawari posisi sebagai dosen. Entah aku bisa atau bersedia karena sejak lama aku merencanakan untuk kembali ke Malang. Aku jadi ragu. Memang aku perlu mencoba dulu. Wawancara selalu berguna untuk melihat kecocokan dan memahami kondisi masing-masing.

Salah satu yang membuat aku ragu adalah jika aku diterima dan diminta untuk mulai bekerja di semester ini, aku akan bekerja di dua tempat dengan tekanan yang sama-sama berat. Bekerja di satu lembaga saja aku sulit tidur, bagaimana kalau dobel? Masak jadi dobel burnout? Ragaku perlu istirahat. We’ll see.

Leave a Reply

Your email address will not be published.