Pengalaman-Saya

Jalan Raya Bogor

Tanggal 31 Oktober malam, aku naik taksi menuju bandara Soetta. Supir taksi menyampaikan bahwa ada kemacetan di tol Jagorawi. Dia memberiku alternatif dan aku memilih menggunakan jalan biasa yaitu Jalan Raya Bogor. Di sini cerita dimulai. Aku tidak menyangka perjalanan mengejar pesawat menjadi satu cerita nostalgia.

Cibinong bukan kota yang asing tapi tidak sering aku singgahi ketika aku kecil. Ibuku pernah punya beberapa petak kontrakan di Cibinong tapi dia jarang mengajakku. Begitu melewati Cibinong dan masuk ke Cimanggis, aku teringat banyak hal. Aku sering melewati atau berada di sekitar Cimanggis, terutama ketika aku kuliah di UI Depok. Bapakku pernah mentraktir soto daging enak di Cimanggis. Ada saudara dari Desa Waung yang juga tinggal di Waung. Lembaga tempat aku bekerja juga pernah mengadakan kegiatan di Cimanggis. Aku pernah masuk ke Pasar Cimanggis, kalau tidak salah membeli rak piring kecil. Perias pengantinku juga tinggal di daerah Cimanggis.

Di Cimanggis juga aku pertama kali melihat ada tank di depan kampus Jayabaya. Di Cimanggis, aku kadang menemani ibu menabung di BDN (Bank Dagang Negara) yang kemudian berganti nama. Di tempat ini juga terkenal dengan pabrik elektronik National kalau aku tidak salah ingat. Kemudian berganti nama, apa ya, Panasonic? Di Cimanggis juga aku ditemani ibu untuk menyetor uang hasil sumbangan perkawinanku ke rekeningku. Setelah dihitung ternyata saweran perkawinanku menguntungkan. Alhamdulilah.

Setelah Cimanggis, masuk lampu merah Cibubur. Ini bukan Legenda Wisata Cibubur ya. Dari pertigaan lampu merah ini, aku teringat tempat di mana dulu aku menunggu angkutan kota ke kampus UI Depok. I keep telling myself, I was there, I was here, I know this place, I was part of this street. I became sad but I was thrill that I can pass the street in different light; as my past, as the place I have stayed. I love the feeling that I can comforting myself.

Aku tahu apa yang selanjutnya aku lewati. Jalan simpang menuju Kalisari. Di dekat pabrik susu Indomilk, di dekatnya ada kantor pos yang kadang aku kunjungi. I missed the place, I missed the traces I left behind. I missed Reni, my friend who lived in small alley in Indomilk. Ketika akan menikah dan pindah rumah, aku mengurus surat-surat ke kecamatan yang letaknya di dekat pabrik Indomilk itu. Di daerah situ juga aku pernah ikut les Nurul Fikri dengan harapan bisa masuk UI.

Supir taksi bergegas melewati daerah Gongseng, ada putaran bagi angkutan kota menuju ke Kalisari. Aku mengingatnya. Ingatan itu membahagiakan. Ingatan itu mengingatkan pada beberapa hal yang terjadi di masa SMA dan ketika aku bekerja. The street grows with me; in me.

Aku ingat sungai di bawah jembatan Gongseng. Sulit untuk mengingat sungai karena di kota besar, sungai menjadi tidak terlihat; invisible. Bahkan sungai itu tempat untuk membuang sampah. Sungai multi fungsi tapi tidak ditata dengan baik. Dengan mengikuti aliran air, aku sampai di Ciracas. Ada saudara bapak yang tinggal di Ciracas, ada teman kerja yang tinggal di situ juga. Sejak lama, aku menerima apa adanya tentang nama-nama yang dimulai dengan kata Ci atau Ciu yang berarti air dalam bahasa Sunda.

Aku pernah digurah di Ciracas. Ada pool bus Mayasari Bakti di situ. Biasanya di pagi hari pada jam berangkat kerja akan padat orang bergerombol di pintu keluar. Kapan ya aku melewati jalan ini? Maret tahun 2011 aku pindah dari Jakarta ke Malang. Mungkin sekitar bulan itu.

Lalu aku melewati Cijantung. Ah, tidak terasa. Aku banyak menghabiskan waktu remaja dan dewasa di Cijantung. SMA-ku di sini. Pada saat kuliah, aku sering ke Pasar Rebo atau terminal Kampung Rambutan ke Perpustakaan British Council. Aku tuh ingat di Cijantung dulu ada supermarket Hero lalu jadi mal Cijantung, tempat nongkrong favorit. Satu kali angkutan umum dari rumah.

Taksi Maxim yang aku tumpangi berbelok ke kiri di perempatan Pasar Rebo, masuk tol ke arah Ciputat. Kalau dari daerah Ragunan, aku masih berkunjung terakhir di 2019 ketika bertemu dosen penguji luar komisi. Aku juga pernah mengunjungi Devina di rumahnya di Lebak Bulus.

Setelah masuk tol, supir ngebut. Tujuh menit menuju pukul 23.00, taksi Maxim tiba di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Yes!! I am here. Thank you for the ride, the memories, the journey, the feelings.

Leave a Reply

Your email address will not be published.