Pengalaman-Saya

Raja Ampat

Aku tidak pernah menduga kalau dalam waktu hidupku, aku akan mengunjungi Raja Ampat. Sumpah! Aku hanya tahu kalau Raja Ampat itu ada di Pulau Papua dan perjalanan ke sana mahal. Aku pernah baca beberapa tahun yang lalu, dana yang perlu disiapkan di atas 5 juta dan itu belum termasuk tiket pesawat pulang pergi. Waduh! Aku juga tidak tahu tempat ini ada di provinsi Papua mana. Aku merasa Raja Ampat ini liburan mahal, khusus orang luar negeri atau orang kaya bangetlah.

Ketika ada kegiatan di Sorong minggu lalu, aku tidak terpikir untuk ke Raja Ampat karena aku juga tidak tahu kalau hanya tinggal sekali menyeberang dengan kapal cepat. Temanku, Asih, yang memberitahu dan mengajakku. Aku langsung yes. Kalau dia oke, aku oke. Ternyata Tuhan memang punya rencana membawaku ke Raja Ampat. Pada saat yang sama Kak Magda ada rencana ke Raja Ampat. Berhubung dia pendeta, kami tidak perlu membeli pin. Aku sendiri baru tahu bahwa ada biaya pin untuk menyeberang ke Raja Ampat dan ke pulau-pulau lain. Jelas sekali sayap malaikat menyertai kami.

Sabtu siang kami berangkat. Hanya ada dua kali jadwal penyeberangan dari pelabuhan Sorong ke Waisai, Raja Ampat yaitu pukul 9.00 dan 14.00. Penyeberangan makan waktu 2 jam dengan biaya Rp100.000/orang. Aku antusias sekali. Tapi aku tidak sempat browsing di internet tentang Raja Ampat dan pulau-pulau di sekitarnya. Jalan saja, jangan banyak menimbang.

Sebenarnya aku takut mabuk di kapal. Tapi seingatku, ketika perjalanan di Pulau Belitung beberapa tahun lalu, aku tidak mabuk dan menikmati perjalanan. Aku berharap ombak di Raja Ampat tidak besar. Tentu saja aku salah. Ombak besar, tetapi diimbangi dengan kapal yang cukup besar dan penumpang yang banyak. Aku mengelus dada, aman.

Kota Pelabuhan Waisai cukup ramai dan banyak pendatang muslim. Kami sendiri makan siang di sebuah rumah makan yang dikelola orang Jawa Timur. Aku bisa tahu karena salah satu menunya rujak cingur. Ya ampun! Rujak cingur sampai ke Raja Ampat!

Dari Waisai, kami naik ojek ke kota untuk makan siang. Setelah itu naik ojek lagi, walaupun sebenarnya bisa jalan kaki, menuju pelabuhan kecil. Di sana kami naik perahu yang lebih kecil menuju Pulau Yenbuba. Sesuai informasi dari Kak Magda, pulau ini surganya diver atau penyelam untuk snorkeling untuk melihat ikan hias dan terumbu karang. Kami sih tidak bisa berenang dan tidak bisa juga snorkeling jadi menikmati terumbu karang dan air laut saja senangnya bukan main. Maklum orang darat dan orang kota. Norak banget!

Perjalanan ke Pulau Yenbuba ditempuh 45 menit sampai 1 jam. Lumayan lama tapi menyenangkan. Ombaknya tidak terlalu besar. Selama perjalanan, kami dimanjakan dengan pemandangan sunset alias matahari tenggelam. Gilak! Pemandangannya luar biasa bagi orang kota yang kadang gak ngerti kapan matahari tenggelam, apalagi melihat matahari tenggelam. Sibuk ngelihat layar laptop! Apa itu sunset?

Sampai di Pulau Yenbuba sekitar pukul 18.00. Matahari sudah tenggelam dan lampu rumah menyala. Kak Magda memberi informasi bahwa listrik di pulau ini menyala sejak pukul 18.00 sampai 6 pagi. Jadi semua perangkat elektronik perlu diisi pada malam sampai pagi hari. Dasar orang kota! Kita-kita ini lupa dong, akhirnya pas besok pagi beberapa HP tinggal sekian persen. Masih untung bawa kamera digital yang baterainya lumayan. Itu pun tidak kami charge di malam hari. Di kota kan selalu ada listrik.

Berhubung pendamping kami adalah pendeta Sinode GKI, kami mendapat penginapan di Pastori. Satu kamar bertiga: aku dan dua orang teman. Semua perempuan. Dua orang darat dan satu orang pulau, tepatnya Maluku. Malam itu kami bertiga ditemani Kak Magda berjalan ke dermaga. Dia bercerita bahwa sebelum pandemi, Pulau Yenbuba ini selalu penuh dengan turis luar negeri, jarang turis dalam negeri. Orang pulau juga lebih menyukai turis asing karena menghargai terumbu karang, tidak menginjak terumbu, senang berenang, dan snorkeling. Turis asing tidak terlalu banyak berfoto.

Tidak ada lampu di sepanjang dermaga. Kalau ramai turis, biasanya ada lampu. Alhasil dalam kegelapan, kami bisa melihat galaksi Bima Sakti. Langit cerah dan bintang-bintang muncul dengan cantik. Pemandangannya tidak bisa difoto dengan kamera dan digambarkan dengan kata-kata. Cukup aku nikmati dengan mata. Udaranya segar, asin, dan datar. Kak Magda minta kami mematikan cahaya senter dari HP agar bisa melihat kunang-kunang. Ya Allah, orang desa yang besar di kota, seberapa sering sih melihat kunang-kunang? Wow banget! Kami sampai ingat dengan film Moana dan menurut Kak Magda memang benar di salah satu adegan film kunang-kunang akan mengikuti kapal sehingga di permukaan laut terlihat terang. Serius kita jadi norak.

Selama di Yenbuba, kami disajikan makanan laut plus tempe dan sayur. Enak banget, sumpah! Makanan hotel kalah enak. Bumbu sambalnya itu tomat, cabai, jeruk, dan minyak sedikit. Itu udah enak banget. Ikannya segar dari laut. Ya iyalah!

Paginya kami ke dermaga lagi untuk memberi makan ikan-ikan yang super indah, melihat terumbu karang. Dermaga di Yenbuba sedang diperbaiki. Rencana selesai diperbaiki bulan Desember, siap menyambut turis lagi. Semoga ya.

Warna air laut ada dua, hijau dan biru. Jernih banget! Terlalu cantik dan sulit digambarkan dengan kata-kata. Kami meminjam kapal dari pendeta dan hanya mengganti bensin. OMG, baik banget! Tapi kita perlu menunggu agak siang. Kapalnya itu lebih kecil dari kapal yang kami tumpangi dari Waisai. Dengan kapal kecil itu, kami mengunjungi pasir timbul, Pulau Friwen, dan ke pondok penginapan dekat Yenbuba. Rupanya cuaca dan ombak bisa berubah dalam waktu cepat. Perjalanan dari Pulau Friwen ke pulau terdekat Yenbuba sangat mendebarkan. Kami orang darat tidak terbiasa dengan ombak. Ya ampun! Kami shock!

Di perhentian terakhir, sebelum ke Yenbuba, kami menikmati sunset lagi. Kali ini sunsetnya lebih luar biasa! Worth the effort and worth my life! Satu hal yang tidak terlupakan adalah kamera HP Kak Magda itu bagus banget dan dia pandai mengambil foto. Jadilah dia fotografer kami.

Perjalanan balik ke Waisai berjalan lancar. Ombaknya besar tapi kami cukup tenang karena tidak sebesar hari sebelumnya. Aku sulit membayangkan kerja yang dilakukan Kak Magda menyeberangi lautan dan mendaki gunung untuk melakukan pelayanan ke jemaat. Luar biasa!

Sampai di Sorong, kami lelah dan bahagia. Aku ingin mengunjungi Raja Ampat lagi. Menurutku, tempat itu dan pulau-pulau kecil lainnya adalah sumber kekayaan orang Papua.

Leave a Reply

Your email address will not be published.