Pengalaman-Saya

Kematian

Tulisan ini menyambung tulisan sebelumnya tentang anak si Belang yang hamil, bersamaan dengan Belang. Selama 10 hari aku berada di luar kota. Aku hanya minta pekerja di rumah untuk membersihkan pasir gumpal dan menambah makan dan minum untuk tiga kucing yang masih sering ke rumah. Aku was-was kalau si Belang sudah melahirkan. Perut Belang lebih besar daripada anaknya yang selama beberapa minggu terakhir aku panggil dengan nama Sinbad, sesuai dengan nama perumahan tempat aku tinggal. Aku berpikir, kayaknya Belang duluan yang akan melahirkan.

Aku pulang hari Senin, 20 Desember malam menggunakan bus. Aku kaget mendengar dan mencium bau aneh. Ternyata ada dua bayi kucing di kamar kedua. Salah satu bayi lebih kecil dan tidak banyak bersuara. Lemah banget. Aku bingung, ini bayi siapa? Lalu di mana induknya. Tidak lama, Belang datang ke rumah dengan perut yang masih buncit. Lho, dia belum melahirkan. Berarti ini bayi Sinbad. Tapi aku tidak melihat Sinbad, biasanya dia akan datang kalau tahu aku pulang.

Besoknya, aku sibuk bekerja. Pekerja di rumah juga datang tapi tidak merasa ada yang aneh. Belum tercium bau aneh. Hari Rabu aku seharian di kantor. Aku merasa tidak enak. Bayi harusnya diberi makan dua jam sekali. Sementara aku ke kantor dari jam 6.30 dan pulang jam 21.30. Benar saja. Ketika pulang, bayi yang lebih kecil dan tidak bersuara sudah mati. Satu lagi masih hidup. Pas malam itu, paket dot susu, pipet, dan perlak panas (heat pad) yang aku pesan di toko daring baru datang. Aku langsung buatkan susu untuk satu bayi itu. Dia tidak bisa menelan banyak susu. Aku letakkan di heat pad dan berharap dia bisa bertahan. Aku merasa kedua bayi ini lahir prematur. Aku juga pesimis mereka bisa bertahan tanpa induk.

Aku merasa ada bau menyengat dari dapur. Lalu aku ingat, beberapa kali Sinbad masuk ke kolong dapur untuk mencari kehangatan. Ketika aku cek, benar saja, mayat Sinbad yang kaku dan membesar ada di kolong dapur. Aku keluarkan dan masukkan ke dalam kardus. Lalu aku kuburkan bayinya.

Aku sangat lelah karena seharian menyiapkan dokumen pendukung untuk audit keuangan sehingga cepat terlelap. Aku terbangun dua kali untuk mengecek bayi Sinbad. Pada pengecekan kedua, bayi tidak bernapas lagi. Ya, memang singkat sekali hidupnya. Aku letakkan tubuh bayi kedua di luar dan tidur kembali. Pukul 5.30, aku kuburkan bayi kedua Sinbad. Lalu aku titipkan ke satpam untuk minta tolong tukang sampah mengubur tubuh Sinbad.

Aku sempat curhat ke Devina tentang Sinbad dan kedua bayinya. Sampai sekarang, aku belum informasi terbaru bahwa aku sudah menemukan tubuh Sinbad. Aku masih merasa kehilangan. Dari ketiga anak Belang, Sinbad yang paling dekat dengan aku dan sering aku ajak ngobrol. Usia Sinbad belum satu tahun, mungkin tubuhnya belum siap untuk melahirkan. Dia paling suka ndusel aku di kasur ketika mencari kehangatan. Sekarang masih ada satu anak Belang yang masih hidup yaitu belang hitam dan oren. Kalau mau diberi nama mungkin Belang Dua.

Kemarin malam, aku lupa menutup jendela dan tertidur. Lalu pukul 23.00 terbangun dan melihat Belang sedang gelisah. Dia menggaruk lemari baju plastik, sepertinya ingin masuk karena di dalamnya hangat. Aku berpikir, sepertinya dia mau melahirkan. Aku giring dia keluar. Aku belum bisa menampung Belang dan anak-anaknya. Kalau setelah lahir, dia ingin memindahkan anak-anaknya ke rumah, silakan. Tapi ya itu, aku akan lebih sering bepergian dan meninggalkan Belang dan bayi-bayinya.

Aku juga susah menghadapi kehilangan meskipun aku tidak memberikan nama ke kucing-kucing di sekitar rumah. Belang sendiri nama yang diberikan anak-anak di perumahan karena dia kucing yang cukup tua dan sudah melahirkan sekitar 4 kali. Aku kangen Sinbad. She will be okay right?

Leave a Reply

Your email address will not be published.