Pengalaman-Saya

Tidak berdaya selama dua generasi

Namanya Isa. Usianya 23 tahun. Menikah di usia 21 tahun dan saat ini sudah memiliki anak laki-laki berusia hampir 2 tahun. Dia bekerja denganku lebih dari 3 tahun sebagai pekerja rumah tangga. Sebelumnya dia bekerja di rumah temanku. Berhubung paruh waktu, dia masih ada waktu untuk bekerja di rumahku. Setahun kemudian kontrak kerja dia di rumah temanku berhenti jadi dia hanya bekerja denganku.

Seingatku dia menikah dengan laki-laki pilihannya. Satu hal yang mengagetkan ketika aku mengenal Isa ketika mengetahui dia “hanya” lulusan SD. Usianya jauh lebih muda dariku, jadi aku heran, kok bisa hanya pendidikan SD. Rupanya dia anak yatim. Ketika masih sangat kecil, ayahnya meninggal. Ibunya bekerja sebagai pekerja rumah tangga di beberapa rumah. Anaknya yang lebih tua belum bisa mengasuh Isa yang masih kecil. Isa juga punya adik laki-laki. Alhasil Isa selalu dibawa ibunya bekerja. Penghasilan ibunya minim dan menjadi faktor tambahan dia tidak bisa menyekolahkan Isa sampai tingkat lanjut.

Dengan pendidikan SD, Isa tidak punya banyak pilihan pekerjaan. Kakak perempuannya lulusan SMP dan adik laki-lakinya baru saja lulus SMK. Dia tidak punya banyak keahlian dan jejaring untuk bekerja.

Rumah ibunya dekat dengan perumahan tempat aku tinggal. Sejak punya anak, dia tinggal bersama ibunya lagi. Sebelumnya dia tinggal di rumah keluarga suami di daerah Semplak, Bogor.

Mungkin karena berbagai hal tadi, dia memutuskan untuk menikah di usia muda. Mungkin ada harapan dengan menikah untuk bisa meringankan beban ibunya sebagai orang tua tunggal.

Sampai dengan beberapa bulan terakhir, aku melihat Isa cukup bahagia. Lalu sekitar setahun yang lalu dia berhutang 1,5 juta, dipotong dari uang honornya. Dia bilang untuk usaha suaminya. Setelah lunas, dia meminjam lagi 1 juta tapi hanya aku berikan 800 ribu. Bulan ini dia selesai mencicil. Honornya minim. Dia datang ke rumah dua kali seminggu. Sebelumnya dia membersihkan rumah tiga kali seminggu tetapi sejak dia punya anak aku merasa cukup dua kali seminggu.

Minggu lalu Isa datang dan mengatakan ingin berhutang kembali. Kali ini lebih besar dari sebelumnya 2,5 juta. Tanggul itu jebol juga. Dia bercerita dengan terisak-isak bahwa suaminya sudah lebih dari 6 bulan tidak memberi nafkah ke dia dan anaknya. Suaminya juga menggadaikan motornya yang menjadi sumber penghasilan sebagai tukang ojek. Uang dari hutang sebelumnya tidak digunakan untuk usaha, malah untuk “main online”. Entah apa yang dimaksud Isa. Aku tidak yakin dia paham juga. Suaminya berhutang di yayasan di dekat rumah menggunakan KTP dan atas persetujuan Isa. Karena awalnya mengatakan akan digunakan untuk usaha. Alhasil, sekarang Isa yang ditagih oleh debt collector karena KTP suaminya berada di alamatnya yang sekarang.

Ibu Isa menasehati untuk bercerai saja. Aku sendiri khawatir kalau suaminya berhutang lagi menggunakan KTP atau surat kuasa yang dibuat sendiri atas nama Isa.

Aku mengizinkan Isa untuk membawa anaknya yang berusia 2 tahun ke rumah ketika bekerja. Lalu realitas itu menamparku. Seperti inilah ibunya dulu membesarkan dia; membawa anaknya bekerja karena dia perempuan kepala rumah tangga. Hal yang sama terjadi lagi dengan anak perempuannya. Apa yang akan terjadi dengan anak laki-lakinya?

Aku merasa ditampar kanan kiri. Aku sulit membayangkan diriku sendiri menjadi perempuan kepala keluarga di usia 22 tahun. Realitas itu sangat dekat dengan aku sekarang. Aku bertanya ke diriku sendiri, aku bisa apa? Apakah dua generasi akan bernasib sama?

Leave a Reply

Your email address will not be published.