Pengalaman-Saya

Tiga anak bulu

Senin, 6 Maret malam aku kembali ke Bogor dari Malang. Aku tidak disambut oleh kucing calico yang biasanya datang ke rumah. Aku terlalu lelah karena bus terlambat dari jadwal. Tengah malam aku merasa mendengar suara-suara aneh. Aku biarkan.

Paginya, aku melihat kucing calico sudah ada di dalam rumah. Aku melihat perutnya sudah kempes. “Oh dia sudah melahirkan. Dimana bayinya?” batinnya. Aku pikir dia melahirkan di tempat lain. Lalu aku dengar suara-suara bayi kucing. Aku cari sumber suara. Duh, ternyata dia melahirkan di dalam kardus TV. Di dalamnya ada TV yang aku simpan. Memang di dalam situ hangat, tapi… ya sudahlah.

Ada tiga bayi, dua bayi dengan dua warna: putih hitam dan putih oranye dan satu bayi calico. Ketiganya sehat dan ukurannya normal. Aku perkirakan usianya sekitar satu minggu.

Aku sempat pindahkan bayinya ke kardus lain tapi calico tetap balik ke kardus TV. Rupanya disana dianggap aman. Dia sangat protektif dengan anaknya. Bahkan ketika ada kucing betina lain yang ingin melihat, dia anggap sebagai ancaman. Dia cukup bersahabat denganku ya karena aku yang memberinya makan.

So, I have another set of kittens at home. New hope!

Aku membelikan makanan kucing untuk calico supaya dia sehat dan bisa menyusui bayinya. Insting keibuannya sangat kuat. Dia rajin memandikan dan menghangatkan bayinya. Jadi aku juga senang. Bayi kucing kalau ada induknya, aman.

Aku senang dengan kelahiran ketiga bayi ini karena lebih dari satu bulan ini aku dan tetangga tidak lagi melihat si Belang, ibunya calico berkeliaran. Entah apakah dia mati alami atau mengalami kecelakaan. Aku belum memberi nama ke tiga anak calico. Oya meskipun di rumah sekarang tidak aku beri pasir gumpal, calico tidak pernah pipis atau BAB di dalam rumahku. Dia melakukannya di luar rumah dan seingatku juga tidak di halaman rumahku.

Leave a Reply

Your email address will not be published.