Pengalaman-Saya

Eksistensi diri dan perlawanan

Aku mendapat dua hal berkesan dari Live IG yang aku ikuti malam ini. Ada dua narasumber, satu seorang perempuan dengan pengalaman transgender dan satunya cis perempuan. Diskusi pertama tentang eksistensi diri. Adalah manusiawi jika seseorang ingin identitas diri dan keberadaannya diakui oleh orang lain dan diterima masyarakat. Salah satunya pengakuan terhadap perjuangan yang dilakukan seorang aktivis dalam gerakan perempuan. Dengan kata lain, tidak hanya orang itu-itu saja yang tampil dalam forum nasional dan internasional, demonstrasi, aksi, musrenbang, atau ruang publik lainnya.

Ada dua cara yang dapat dilakukan. Pertama, regenerasi pemimpin. Biasanya regenerasi sering dipahami sebagai mengganti pemimpin dengan yang baru, lalu pemimpin lama mundur dan mengambil peran lain. Aku tidak masalah dengan pemahaman ini karena seperti yang disampaikan Ki Hadjar Dewantara, memimpin tidak harus selalu berada di depan. Di tengah dan di belakang barisan pun, seorang pemimpin tetap memimpin dirinya dan orang lain. Regenerasi bisa menjadi rotasi kepemimpinan, memberi kepercayaan dan ruang ekspresi lebih besar bagi orang lain yang kapasitasnya telah dikuatkan.

Cara kedua, adalah kepemimpinan kolegial. Cara ini bukan berarti dalam suatu organisasi perlu ada 2-3 pemimpin dengan kekuasaan setara, melainkan berbagi kuasa sesuai kapasitas dan kebutuhan. Dalam satu organisasi bisa saja direktur atau koordinator dipegang satu orang tapi ada beberapa orang yang menemaninya. Berbagi kuasa berarti berbagi tanggung jawab, ruang publik, dan berbagi kesulitan.

Diskusi berlanjut ke pertanyaan, “Bagaimana kamu memaknai perlawanan? Seperti apa perlawanan bagimu?”

Narasumber perempuan dengan pengalaman transgender menyampaikan bahwa perlawanan baginya sederhana keluar rumah dan berinteraksi dengan orang lain. Dengan identitas gender dan nilai yang ada di Indonesia, hal sederhana ini merupakan perlawanan karena dia selalu takut untuk menghadapi penghakiman dari orang lain. Bertahan dari penghakiman, agresi sekecil apapun, hinaan, dan sejenisnya yang terjadi setiap hari merupakan perlawanan luar biasa yang sering mengorbankan kesehatan mental. Dia memang diam, tapi dengan keluar dan beraktivitas dan berbaur, dia melawan nilai dan aturan. Dengan melanjutkan pendidikan sarjana, dia juga melawan. Tidak banyak perempuan dengan pengalaman transgender yang melanjutkan kuliah mengingat stigma dan dana yang harus dikeluarkan.

Narasumber kedua menyimpulkan bahwa perlawanan adalah sikap dan laku. Bagiku ucapan dan menulis juga bagian dari melawan. Dari keduanya termanifes sikap dan cara pandang seseorang. Kekuatan, kapasitas, dan kondisi seseorang untuk melawan berbeda. Aku jadi ingat pengalamanku ketika belum sadar tentang proses penyembuhan atau healing kondisi mental. Aku mudah ke-trigger dengan berbagai hal di sekitarku termasuk dengan mendengarkan musik. Aku tipe penyendiri dan sangat introvert. Jadi ketika SMP dan SMA, ketika siswa lain menunggu angkutan kosong untuk bisa naik bareng, aku tidak. Aku naik angkot sendiri, jalan kaki ke sekolah sendiri, ke mal sendiri, mengerjakan tugas kelompok sendiri, ke perpustakaan sendiri. Tapi akhirnya aku tidak punya tempat untuk berbagi, termasuk berbagi dan mengurai pengalaman pelecehan seksual yang aku alami.

Diam bagiku menyakitkan karena aku memendam trauma tetapi berbicara juga akan membuatku terstigma. Akhirnya aku bersuara melalui puisi. Aku menulis puisi bukan karena aku orang yang puitis dan kreatif. Aku stres, takut ngomong, takut orang salah paham, takut ini, takut itu. Jadi aku relate banget dengan topik diskusi malam ini yang difasilitasi oleh IPPI. Thank you.

Leave a Reply

Your email address will not be published.