Pengalaman-Saya

Layar tancap

Enggak tau kenapa pingin aja nulis tentang layar tancap. Aku merasa punya privilege atau keistimewaan sebagai generasi yang pernah mengalami layar tancap. Luar biasa banget, nonton film bareng sekian puluh atau mungkin sampai ratusan kepala. Aku tidak ingat judul film yang pernah aku tonton di layar tancap karena yang penting itu suasana kebersamaan dan keramaian saat nonton. Belum lagi keseruan beli jajanan, gelar tikar atau koran, dan jalan bareng teman-teman ke lapangan bola yang jaraknya kurang lebih 1 km dari rumah.

Sampai sekarang aku senang jalan kaki karena sejak kecil sudah terbiasa jalan kaki ke depan komplek perumahan untuk naik angkot dan beraktivitas. Masjid di perumahan juga sekitar 700 meter dari rumah. Jalan bersama teman atau jalan sendiri punya kenikmatan masing-masing. Khusus nonton layar tancap, musti jalan dengan teman satu grup.

Sudah lebih dari dua tahun sejak pandemi aku tidak pernah menonton di bioskop. Tentunya karena bioskop berada di ruang tertutup jadi entah kepikiran, “bagaimana kalau dihidupkan kembali layar tancap?” Tetap berisiko sih, tapi jumlah orangnya bisa dibatasi. Jajanannya juga bukan popcorn tapi kacang rebus, bajigur, dan teman-temannya. Atau bolehlah tambah kerupuk putih atau peyek kacang tanah. Dua-duanya kesukaanku.

I realized I have grown passed on different times, trends, and feelings. I can’t bring back the old things to the present generations without making changes here and there. There are times where I feel I am an old souls.

Leave a Reply

Your email address will not be published.