Pengalaman-Saya

Sabar=melambat

Aku senang bekerja dengan cepat, efektif, dan efisien. Seringkali tergesa dan akhirnya mendorong orang lain untuk cepat bergerak. Padahal orang-orang ini tidak bekerja untuk aku dan mereka memiliki ritme kerja dan budaya yang berbeda. Jadi aku serasa mendapat teguran ketika ada teman yang mengatakan, “Oke, sabar ya. Nanti dikabari.”

Ibarat mesin, kalau mengerjakan suatu tugas dengan cepat dan hanya diberi waktu istirahat sebentar, kemungkinan akan panas. Di manusia namanya burnout, di mesin mungkin menjadi overheat. Mesin mungkin punya toleransi lebih tinggi sehingga masih bisa stabil dan produktif di panas yang tinggi. Manusia sangat fleksibel, tetapi ada batas.

Aku belajar untuk mengenali dan menghargai batas heart, mind, and body. It’s not a weakness. It’s who you are.

Sabar itu bisa berarti melambat. Tidak semua yang melambat berarti tidak efektif dan tidak produktif. Ada banyak hal yang dapat kita rasakan dan hayati ketika melambat. Tidur adalah salah satu momen melambat yang fungsinya penting bagi tubuh. Selain secara fisik melambat, psikis juga perlu melambat. Di akhir tahun seperti sekarang, tantangan terbesar adalah melambat karena ada banyak agenda dibebankan di akhir tahun. Begitu mau melambat, kadang kita ambruk!

Oktober terlewat tanpa sebuah jurnal. Bayangkan! November ini hampir terlewat tanpa jurnal. Tidak terbayangkan! Aku harus menulis karena tadi sore aku sempat merasa sakit kepala, cenut-cenut. You know what it is. A sign!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *