• Perjalanan-Saya

    Perempuan yang marah

    Aku pernah menulis tentang kemarahan perempuan di artikel “Mengalami Feminisme” (https://becomingfeminist.id/2020/06/06/feminisme-dan-filsafat/). Sedikit aku kutip. Aku perlu menyebutkan hal ini karena sempat ada pertanyaan, “Bisa gak sih perjuangan keadilan gender tidak dimulai dari kemarahan, bukan dari perempuan yang marah-marah (misuh-misuh)?” Marah itu akibat dari ketidakadilan dan penindasan yang sistematis. Marah itu alami dan hak setiap manusia. Pertanyaan ini berangkat dari stereotipe feminisme sebagai sosok perempuan marah, kecewa, frustasi yang menjadi sosok radikal sehingga kehilangan sisi femininnya. Karena perempuan yang marah dianggap tidak feminin, dia menjadi tidak menarik bagi laki-laki. Aku termasuk perempuan yang pernah mengalami dan memendam kemarahan selama bertahun-tahun. Alasannya? Menurutku alasan utama adalah pelecehan seksual yang aku alami semasa…